Perpustakaan
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi

Virus Corona, Bekerja dari Rumah dan Peran Pustakawan

17 Apr 2020


SAAT ini hampir seluruh belahan dunia disibukkan dengan wabah virus corona yang disebut dengan Covid-19. Tak luput Negara kita juga mengalami wabah ini. Virus yang sangat kecil dan tidak nampak oleh mata telanjang ini sudah memporak-porandakan berbagai aktivitas umat manusia. Untuk mencegah penularan virus ini, pemerintah mengambil beberapa kebijakan untuk menghentikan dan mengubah pola kegiatan rutin yang selama ini sudah berjalan. Kegiatan sekolah, perkuliahan, perkantoran dan juga pusat perbelanjaan banyak yang terhenti. Termasuk aktivitas pelayanan perpustakaan. Padahal perpustakaan selama ini menjadi pusat kegiatan belajar mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum. Berbagai fasilitas perpustakaan seperti koleksi digital, ruang belajar dan fasilitas internet telah menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Namun saat ini semua seakan berhenti. Sudah tak terhitung perpustakaan yang menghentikan sementara pelayanannya.

Tidak hanya menghentikan sementara berbagai kegiatan saja, tetapi masyarakat juga dihimbau untuk melakukan social distancing atau pembatasan sosial. Yakni membatasi interaksi masyarakat misalnya dengan tinggal di rumah, menjaga jarak dan lain sebagainya.

Work From Home

Istilah Work From Home (WFH) saat ini menjadi populer. Penghentian layanan tatap muka di perpustakaan bukan berarti tidak ada pelayanan sama sekali. Berbagai instansi menerapkan WFH bagi karyawan maupun pegawainya untuk menyelesaikan tugas-tugas kesehariannya. Tidak ketinggalan demikian pula yang dilakukan oleh pengelola perpustakaan. Berbagai tugas sehari-hari perpustakaan diselesaikan oleh pustakawan melalui WFH.

            Pelayanan perpustakaan secara daring adalah sebuah keniscayaan saat ini. Ketika pelayanan secara tatap muka tidak dapat dilakukan, maka pelayanan melalu teknologi informasi komunikasi sangat dibutuhkan.  Hal ini tidak masalah karena selama ini dunia kepustakawanan sudah mengenal perpustakaan digital dengan koleksi digital dan pemanfaatan TIK. Sehingga pustakawan dapat memberikan pelayanan perpustakaan melalui media sosial lebih dioptimalkan. Pengguna perpustakaan yang dikenal dengan sebutan pemustaka dapat bertanya, meminta informasi koleksi, meminta copy dan pelayanan lainnya melalui email dan media sosial seperti IG, FacebookTwitter dan sebagainya. Pelayanan ini mengandalkan akses internet. Sehingga tidak semua pustakawan dapat memberikan pelayanan secara daring saat melakukan Work From Home. Sinyal yang tidak lancar sampai terbatasnya kuota menjadi kendala tersendiri. Bahkan aliran listrik pun menjadi faktor penting karena tanpa ada aliran listrik jaringan internet dapat terganggu. Hal yang menggembirakan adalah dukungan instansi tempat pustakawan bernaung. Dukungan moral dan dukungan finansial khususnya untuk akses internet sangat membantu pelaksanaan tugas Work From Home  pustakawan.

            Work From Home yang dilakukan oleh pustakawan memiliki kelebihan dibandingkan pelayanan tatap muka. Antara lain pustakawan dapat melakukan layanan tanpa meninggalkan keluarga dan dapat  pula memberikan layanan sambil minum teh panas, makan camilan, membalas pesan di WAG dan sebagainya. Saat pelayanan tatap muka tentu hal tersebut harus dihindari karena tidak sopan dan tidak pada tempatnya memberikan layanan tatap muka sambil melakukan aktivitas lain. 

Peran pustakawan

Harus disadari bahwa tidak semua tugas pustakawan sehari-hari yang dapat dilakukan selama WFH. Oleh karena itu tidak semua pustakawan memberikan pelayanan kepada pemustaka melalui pelayanan daring. Pustakawan dapat melakukan hal lain yang juga tidak kalah penting, yaitu terlibat dalam agenda kemasyarakatan. Saat ini yang sedang marak adalah usaha memutus rantai penularan Covid-19. Di sinilah pustakawan sebagai pelaku informasi dapat berperan maksimal. Peran yang dapat diambil antara lain mengedukasi masyarakat akan bahaya dan cara penularan virus ini. Social distancing termasuk hal yang harus disampaikan oleh pustakawan kepada masyarakat sekitarnya. Apa yang dimaksud dengan social distancing, bagaimana pengetrapannya dan apa manfaatnya harus dijelaskan kepada seluruh masyarakat.  Hal ini tidak mudah karena pustakawan tidak memiliki pengetahuan dasar yang berkaitan dengan Covid-19. Namun demikian hal ini dapat diatasi dengan cara memilihkan informasi yang valid dan dari sumber yang resmi.

Pustakawan juga dapat memberikan informasi kepada masyarakat berita tertentu adalah hoax atau berita yang benar.  Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini informasi tentang virus corona sangat banyak di media sosial. Bahkan di berbagai WA Grup informasi menyebar dengan cepat. Padahal belum tentu informasi tersebut benar dan valid. Oleh karena itu pustakawan berkewajiban meluruskan informasi yang keliru. Berikan kepada masyarakat akses informasi resmi yang disiapkan oleh pihak yang berwenang.

Tentu masih banyak hal yang bisa dilakukan oleh pustakawan pada saat menjalankan Work From Home. Intinya adalah pustakawan dituntut memberikan pengabdian dan pelayanan informasi kepada masyarakat dalam kondisi apapun. Dan ternyata saat ini terbukti bahwa pustakawan mampu berperan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat dalam kondisi terbatas dan menjalankan pelayanan melalui mekanisme Work From Home***

 

Sarwono, MA

Pustakawan UGM, Ketua PD Ikatan Pustakawan Indonesia

Perpustakaan KEMENDESA © 2019